๐Ÿฆ• Hadits Arbain Ke 28

Pada hadits arbain 28 menunjukkan keutamaan Nabi SAW, ia diberi pengetahuan oleh Allah tentang keadaan di masa mendatang kelak. Ada nubuwah yang berupa peristiwa yang akan terjadi, adalah pula kondisi dan keadaan umat dan agamanya setelah beliau wafat. Berikut bunyi haditsnya: Xj3V. Kitab Hadits Arbain NawawiKitab Arbain Nawawi atau Al-Arba'in An-Nawawiyah Arabุงู„ุฃุฑุจุนูˆู† ุงู„ู†ูˆูˆูŠุฉ kitab hadis 40 hadis masyhur pilihan. Arbaโ€™รฎn artinya 40 , akan tetapi hadis dalam kitab arbain nawawi tidaklah persis 40, melainkan 42 hadits. Arbaรฎn Nawawiyah yang disusun oleh Imam an-Nawawi, ia memuat sekumpulan hadits namun sanadnya tidak disebut secara lengkap dan disandarkan kepada penulis kitab utama mislanya al-Bukhรขri, muslim dan lain-lain. Hadits-hadits dalam kitab Arbaรฎn Nawawiyah merupakan landasan atau fondasi dalam agama Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ajaran Islam, atau setengahnya, atau sepertiganya berlandaskan pada hadits-hadits dalam kitab ini Imam an-Nawawi, al-Arbaโ€™รฎn an-Nawawiyah, Beirut Dar el-Minhaj, cetakan pertama, 2009, h. 44Penyusun atau pengarang kitab arbain nawawi adalah Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุฃุจูˆ ุฒูƒุฑูŠุง ู…ุญูŠูŠ ุงู„ุฏูŠู† ุจู† ุดุฑู ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ุงู„ุฏู…ุดู‚ูŠ, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi' ini adalah Hadits Ke 28 kedua Puluh Delapan dalam Kitab Arbain Nawawi bertulisan Arab harakat beserta terjemahan artinya dalam bahasa indonesia, dengan disertai penjelasan syarh Hadits Ke 28 Kedua Puluh Delapan Kitab Arbain NawawiุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู†ูŽุฌููŠุญู ุงู„ุนูุฑู’ุจูŽุงุถู ุจู’ู†ู ุณูŽุงุฑููŠูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุนูŽุธูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ๏ทบ ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู‹ ูˆูŽุฌูู„ูŽุชู’ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุงู„ู‚ูู„ููˆุจู ูˆูŽุฐูŽุฑูŽููŽุชู’ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุงู„ุนููŠููˆู’ู†ูุŒ ููŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ูŠูŽุงุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู! ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ู…ููˆูŽุฏู‘ูุนู ููŽุฃูŽูˆู’ุตูู†ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃููˆู’ุตููŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ู’ุนู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุนูŽุจู’ุฏูŒุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนูุดู’ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ููŽุณูŽูŠูŽุฑูŽู‰ ุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูุงู‹ ูƒูŽุซููŠุฑุงู‹ุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุณูู†ู‘ูŽุชููŠ ูˆูŽุณูู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ุฎูู„ูŽููŽุงุกู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุดูุฏููŠู’ู†ูŽ ุงู„ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠู‘ููŠู’ู†ูŽุŒ ุนูŽุถู‘ููˆู’ุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงุฌูุฐู. ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ุฃูู…ููˆุฑูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒยป ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุจููˆู’ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏููŠู’ุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menasihati kami dengan suatu nasihat yang menjadikan hati bergetar dan mata menangis, lalu kami berkata, โ€œYa Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.โ€ Beliau menjawab, โ€œAku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan patuh meskipun yang menjadi pemimpin kalian seorang budak. Baransiapa yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat banyak sekali perbedaan. Maka, hendaklah ia berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Waspadalah kalian dari perkara yang baru dan setiap bidโ€™ah adalah sesat.โ€ HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676, dan dia berkata, โ€œHadits hasan shahih.โ€Pelajaran1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para daโ€™i di jalan Allah taโ€™ Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan taโ€™at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena didalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama bidโ€™ah yang tidak memiliki landasan dalam agama. Muhammad Saw. merupakan nabi sekaligus rasul yang terakhir. Tidak ada lagi seorang nabi maupun rasul setelah beliau. Tugas beliau adalah menyempurnakan syariat Allah yang pernah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Selain itu, tugas beliau adalah mengoreksi dan mengembalikan ajaran agama yang telah diselewengkan oleh para pengikut nabi dan rasul sebelumnya. Karena setelah para nabi dan rasul meninggal dunia, para pengikutnya melakukan penambahan, pengurangan maupun perubahan ajaran agama. Inilah yang disebut bidโ€™ah. Misalnya pengikut Nabi Isa alaihis salam yang telah menganggap beliau sebagai tuhan. Maka tugas Nabi Muhammad Saw. adalah mengembalikan aqidah tauhid. Beliau mengajak umat manusia untuk kembali hanya menyembah Allah Swt. saja. Serta memberikan penjelasan bahwa Isa merupakan nabi dan rasul. Beliau bukan anak Allah. Karena Allah tidak pernah membutuhkan keturunan, sebagaimana Allah tidak memerlukan silsilah keturunan. Yam yalid walam yulad. Atas dasar itulah, selama Rasulullah Saw. masih hidup mewanti-wanti umatnya jangan sampai berbuat bidโ€™ah. Karena perbuatan bidโ€™ah itu akan merusak agama. Selanjutnya marilah kita perhatikan hadits di bawah ini dengan baik. Semoga Allah Swt. berkenan untuk menambahkan ilmu dan hikmah bagi kita semua. *** Teks Hadits ุนูŽู†ู ุฃุจูŠ ู†ูŽุฌููŠุญู ุงู„ู’ุนูุฑู’ุจูŽุงุถู ุจู’ู†ู ุณูŽุงุฑููŠูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุนูŽุธูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽุชู’ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจูุŒ ูˆูŽุฐูŽุฑูŽููŽุชู’ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุงู„ู’ุนููŠููˆู†ูุŒ ููŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ู…ููˆูŽุฏู‘ูุนูุŒ ููŽุฃูŽูˆู’ุตูู†ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃููˆุตููŠูƒูู…ู’ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ู’ุนู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽุงุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุนูŽุจู’ุฏูŒุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนูุดู’ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ููŽุณูŽูŠูŽุฑูŽู‰ ุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุณูู†ู‘ูŽุชููŠ ูˆูŽุณูู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูู„ูŽููŽุงุกู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุดูุฏููŠู†ูŽุŒ ุนูŽุถู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงุฌูุฐู ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู ูˆู‚ุงู„ ุญุฏูŠุซูŒ ุญุณู†ูŒ ุตุญูŠุญ Terjemah Dari Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, dia berkata Rasulullah Saw. memberikan nasehat kepada kami yang membuat hati kami bergetar, dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata โ€œWahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan. Maka berilah kami wasiat.โ€ Rasulullah Saw. bersabda โ€œAku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah Taโ€™ala. Tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perselisihan. โ€œHendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pertahankan sunnah-sunnah itu, meskipun dengan gigitan gigi geraham. โ€œHendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan adalah sesat .โ€ HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata โ€œHasan shahih.โ€ *** Catatan dan Keterangan Selanjutnya berikut ini kami sampaikan beberapa catatan dan keterangan berkaitan dengan hadits di atas โ€“ Nasihat Yang Menyentuh Adakalanya Rasulullah Saw. menyampaikan materi dakwah dengan berapi-api. Seakan beliau sedang memimpin sebuah pertempuran. Namun ada juga kalanya beliau bertaushiyah dengan lemah lembut. Sehingga menyentuh hati para shahabat. Bahkan membuat dada bergetar dan air mata bercucuran. Tentu semua itu ada tempatnya masing-masing. Demikian pula hendaknya sikap seorang mubaligh atau daโ€™i dalam mengemban amanah dakwah. Kita semua belajar ilmu dan teknik berdakwah sehingga tugas dakwah dapat kita laksanakan dengan baik dan tepat sasaran. โ€“ Makna Takwa Takwa secara bahasa artinya berhati-hati. Bersikap antisipasi. Jangan sampai melakukan yang halal apabila dikhawatirkan menjerumuskan pada yang haram. Dalam praktiknya, takwa bisa dimaknai melaksanakan perintah Allah yang bersifat wajib dan menjauhi larangan Allah yang bersifat haram. Inilah takwa yang minimalis. Adapun takwa yang sempurna adalah sikap mengurangi sebagian perbuatan yang halal sebatas yang benar-benar diperlukan saja. Lalu menggunakan segenap kesempatan dan perhatian untuk melakukan yang sunnah. Misalnya mengurangi akses media sosial untuk memperbanyak tilawah membaca al-Qurโ€™an. Mengurangi makan-minum yang halal untuk puasa sunnah. Atau juga mengurangi tidur di malam hari untuk bangun shalat Tahajud. โ€“ Taat kepada Pemimpin Pemimpin di sini tentunya pemimpin muslim yang taat kepada aturan agama. Sehingga kita taat kepada pemimpin tersebut bukan semata-mata patuh kepada orangnya. Namun karena kita hendak patuh kepada aturan agama. Adapun kepada pemimpin yang tidak taat kepada aturan agama, tentu saja kita tidak boleh patuh kepadanya. Bila kita patuh kepada pemimpin yang melawan aturan agama, maka sama saja kita telah membantu pemimpin tersebut untuk melawan aturan agama. Naโ€™udzu billah min dzalik. โ€“ Makna Sunnah Rasulullah Saw. Sunnah artinya kebiasaan. Sunnah Rasulullah artinya kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Secara umum, sunnah Rasulullah itu artinya semua hal yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Baik yang berkaitan dengan aturan agama maupun yang tidak berkaitan dengan aturan agama. Yang berkaitan dengan aturan agama itu, misalnya tata cara shalat, puasa dan haji. Adapun yang tidak berkaitan dengan aturan agama itu, misalnya cara beliau berjalan kaki, menata rambut, dan selera makanan. Semua ini adalah sunnah Rasulullah Saw. Namun yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah yang khusus berkaitan dengan aturan agama. Adapun yang bersifat individual tadi maka kita boleh memilih yang lain. Namun bila kita hendak meniru beliau, maka di situ ada nilai lebih, sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. โ€“ Sunnah Khulafaur Rasyidin Khulafaโ€™ merupakan bentuk jamak dari khalifah. Artinya pengganti. Maksudnya pengganti Rasulullah Saw. sebagai pemimpin umat Islam. Adapun rasyidin adalah bentuk jamak dari rasyid. Artinya yang memperoleh petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Khulafaur rasyidin adalah para pemimpin umat Islam melalui pemilihan, bukan diwariskan. Seperti para khalifah dalam berbagai dinasti atau bani. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ada yang menambahkah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga ada lima orang. Sunnah Khulafaur Rasyidin artinya keputusan yang diambil oleh para pemimpin umat Islam sebagaimana disebutkan di atas. Misalnya -Keputusan untuk melakukan pembukuan al-Qurโ€™an meskipun tidak ada perintah dari Rasulullah Saw. oleh Abu Bakar atas usulan Umar bin Khatthab. โ€“ Keputusan untuk menghidupkan kembali shalat tarawih di masjid secara berjamaah dengan satu imam oleh Umar bin Khatthab. โ€“ Keputusan untuk menambah jumlah rakaat shalat tarawih sehingga lamanya sama dengan shalat tarawih yang dilakukan Rasulullah Saw. oleh Umar bin Khatthab dan Utsman bin Affan. โ€“ Keputusan adzan shalat Jumโ€™at dua kali meskipun pada masa Rasulullah Saw. hidup hanya satu satu adzan oleh Utsman bin Affan. โ€“ Keputusan untuk melakukan pembukuan hadits meskipun juga tidak ada perintah dari Rasulullah Saw. oleh Umar bin Abdul Aziz. โ€“ Larangan Berbuat Bidโ€™ah Bidโ€™ah artinya sesuatu yang baru. Melakukan bidโ€™ah artinya melakukan sesuatu yang baru, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Jadi bidโ€™ah merupakan lawan sunnah. Para ulama sepakat, bahwa lafal โ€œkulluโ€ dalam hadits ini yang artinya โ€œsemuaโ€ ada pengecualiannya. Dengan demikian, tidak semua bidโ€™ah itu haram atau sesat. Bidโ€™ah yang haram adalah bidโ€™ah yang berlawanan dengan semangat atau jiwa sunnah. Yaitu bidโ€™ah dalam pokok atau prinsip agama. Baik berupa penambahan, pengurangan, atau penggantian. Misalnya merubah jumlah rakaat shalat lima waktu, memindahkan puasa Ramadhan ke bulan yang lain, atau melaksanakan ibadah haji di luar kota Mekkah. Maka bidโ€™ah ini merupakan bidโ€™ah yang sesat atau haram. Semua hal itu adalah bidโ€™ah yang dhalalah atau sesat. Hukumnya adalah haram. Adapun bidโ€™ah yang sejalan dengan jiwa sunnah, maka masih ada toleransi. Misalnya membaca dua surat setelah bacaan al-Fatihah. Atau membaca beberapa ayat dari beberapa surat yang berbeda-beda dalam satu rakaat shalat. Hal itu merupakan bidโ€™ah yang tidak bermasalah. Artinya boleh-boleh saja. Alias tidak haram maupun sesat. Ada yang menyebutnya sebagai bidโ€™ah hasanah artinya bidโ€™ah yang bagus atau terpuji, ada yang menyebutnya dengan bidโ€™ah jaizah artinya bidโ€™ah yang boleh dilakukan. Bahkan istilah ini merujuk pada Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmuโ€™ Fatawa. Terutama ketika Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan hukum menggabungkan beberapa bacaan doa yang disebutkan dalam beberapa hadits yang berbeda. Di mana Rasulullah Saw. tidak pernah melakukan penggabungan bacaan tersebut. Karena beliau tidak pernah melakukan, maka disebut sebagai bidโ€™ah jaizah. *** Penutup Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama. Allahu aโ€™lam. *** Untuk menyimak hadits arbain yang lain, silakan klik link berikut ini 42 Hadits Arbain Nawawiyah

hadits arbain ke 28